Dari Kantin ke Zoom: Catatan Angkatan 2019 sebagai Generasi Daring Pertama

 


Mahasiswa Angkatan 2019 Semester Ganjil di SPs UIN Jakarta adalah salah satu dari angkatan pertama yang kuliahnya terimbas wabah Covid-19. Perkuliahan yang awalnya tatap muka secara langsung di kelas saat semester ganjil, pada awal semester genap harus diubah  menjadi tatap muka secara daring (dalam jaringan) atau online. Perubahan proses pembelajaran ini terjadi karena kebijakan pemerintah untuk menghindari penyebaran wabah Covid-19 yang kian masif. Presiden Joko Widodo mengumumkan kasus Covid-19 pertama di Indonesia pada 2 Maret 2020. Tak lama setelah WHO menetapkan status pandemi, Kemendikbud mengeluarkan Surat Edaran yang menginstruksikan seluruh satuan pendidikan dan universitas untuk mengalihkan perkuliahan menjadi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau daring.

 

Angkatan 2019 masuk kuliah awal September 2019. Beberapa teman dari luar Jabodetabek tinggal di rumah kontrakan atau kos sekitar kampus UIN Jakarta, khususnya di sekitar kampus II. Ada juga yang agak jauh. Mereka ingin fokus belajar, terutama yang tugas belajar.

 

Di SPs UIN Jakarta, perkuliahan aktif terjadi setiap hari, Senin-Jumat dalam satu pekan. Bagi mahasiswa yang mengambil mata kuliah banyak, apalagi tersebar di seluruh hari, dia harus datang ke kampus setiap hari. Beruntung bagi mahasiswa yang jadwalnya terkumpul hanya dalam 2 hari. Atau, ada juga mahasiswa yang sengaja mengambil mata kuliah yang berdampingan dengan mata kuliah wajib semester (matrikulasi) agar tidak sering-sering datang ke kampus. Ini soal strategi kuliah di kampus reguler yang menggunakan sistem mengambil KRS (Kartu Rencana Studi) secara mandiri seperti di SPs. Ada juga kampus reguler yang menggunakan sistem paket, seperti di Universitas PTIQ Jakarta. Kalau sistem paket, mau tidak mau, mahasiswa mengikuti jadwal yang telah diberikan.

 

Selaku mahasiswa Doktoral SPs Angkatan 2019, kami sempat berkenalan dan berinteraksi secara langsung dengan teman-teman dari berbagai latar belakang. Tempat nongkrong utama kami adalah kantin. Di kantin, kami bisa bercengkerama santai, ketawa-ketawa riang, membahas berbagai hal sambil minum kopi, merokok, dan makan gorengan bersama-sama. Tentu saja, kalau lapar langsung bisa masuk untuk pesan makan dengan berbagai lauk-pauk yang tersedia.

 

Suasana akrab mulai surut saat ujian akhir semester (UAS) ganjil berakhir. Liburan akhir semester berbarengan dengan liburan akhir tahun 2019. Sebagian mahasiswa yang sudah kangen kampung halamannya, akhirnya bisa mudik. Kecuali mahasiswa yang sedang ngirit, tidak punya kepentingan pulang kampung, atau memang sudah punya agenda di sekitar kampus. Konon, ada teman kami, anggota jemaah tablig bernama Fajar bertolak ke India untuk khuruj

 

Awal semester genap, memasuki tahun 2020, kami mulai berdatangan dan kumpul-kumpul lagi di kampus. Sayangnya, baru berjalan dua pekan pertemuan harus bubar. Perkuliahan diganti secara daring. Teman-teman mahasiswa asal luar wilayah kembali pulang kampung. Bahkan kami mendapat kabar bahwa Fajar yang di India belum bisa balik ke Indonesia karena kebijakan lockdown di sana.

 

Perkuliahan daring menjadi pengalaman pertama kami. Untungnya saat itu sudah banyak ditemukan teknologi video conference sebagai media atau ruang kelas virtual. Zoom Meeting langsung "meledak". Teknologi Zoom Meeting terasa menjadi teknologi paling ampuh untuk mengatasi perkuliahan jarak jauh. Cukup bersandar di bawah pohon, kami bisa terhubung dengan seluruh anggota kelas yang tersebar di berbagai wilayah. Whatsapp juga menjadi sangat penting untuk menjadi ruang kelas virtual dengan sistem Grup. Ada juga dosen yang menggunakan Google Classroom sebagai ruang kelas virtual. 

 

Meski kuliah di kelas virtual bisa dilaksanakan secara “rebahan”, namun vibe atau suasana pengalaman pertama ini masih terbawa oleh kelas luring. Tubuh dan imajinasi kami mengikuti sikap yang serius sebagaimana kehadiran dalam ruang fisik. Saya pribadi tidak berani memakai kaus oblong ketika memasuki Zoom Meeting. Kami duduk di kursi menghadap meja dan laptop, seperti di ruang kelas.

 

Sebagai pengalaman pertama, kuliah daring ini tentu banyak percobaan. Dosen-dosen senior yang tidak akrab dengan teknologi cukup kerepotan untuk beradaptasi. Sebagian mereka harus didampingi untuk menghidupkan atau bergabung dalam Zoom Meeting. Sebagian mahasiswa dan dosen juga kesulitan untuk menampilkan makalah di layar. Begitu juga ketika dosen muda mengajak untuk menggunakan Google Classroom. Banyak mahasiswa yang kesulitan mengonfirmasi agar bisa tergabung dalam Google Classroom, apalagi mengirim tugas-tugas ke dalamnya.

 

Sebagai mahasiswa pascasarjana, perkuliahan memang banyak menggunakan metode diskusi. Masing-masing mahasiswa mendapat jatah untuk membuat makalah dan presentasi di hadapan kelas. Jika pada saat kuliah luring, kami perlu cetak makalah dan membagikan kertas makalah satu per satu. Kadang satu makalah setebal hingga 20 halaman diperbanyak sejumlah mahasiswa. Biaya pemakalah untuk kelas luring lumayan besar. Dengan kuliah daring, kami tak perlu cetak makalah. Cukup bagikan melalui Grup Whatsapp sekali, semua sudah bisa menerimanya. Inilah efisiensi dan efektivitas urusan makalah.

 

Penggunaan email dan Whatsapp untuk mengirim file-file tugas menjadi andalan utama. Email yang sebelumnya hanya dipergunakan untuk konfirmasi aplikasi kini mulai penuh urusan kirim-mengirim file tugas. Menggunakan email memang lebih aman dibandingkan melalui Whatsapp. Kadang, kalau Whatsapp mengalami kerusakan atau error file-file hilang semua. Apalagi kapasitas ponsel cepat menyusut karena kiriman foto dan video di berbagai Grup kadang lupa dikendalikan. Akibatnya, kami sering terpaksa menghapus file, dan tak jarang file penting ikut terhapus.

 

Urusan presensi atau kehadiran mahasiswa dalam mengikuti kelas juga masih berbagai macam dicoba. Ada yang membuat daftar presensi menggunakan lis di Grup Whatsapp, masing-masing mahasiswa menulis daftar hadir. Ada juga yang menggunakan cara menycreenshoot peserta dalam Zoom Meeting. Dan ada juga dipanggil satu per satu sebagaimana kelas luring.

 

Tugas-tugas akhir perkuliahan atau ujian dalam masa kuliah daring juga tak kalah menarik. Meskipun sebagian besar dosen cukup menugaskan untuk mengumpulkan makalah, tetapi kami juga mengikuti ujian bahasa: Bahasa Arab dan Bahasa Inggris. Untuk pengumpulan makalah, cukup dikoordinasikan melalui Grup Whatsapp. Makalah dikompilasi menjadi satu, dilayout dan dicetak menjadi buku antologi. Makalah ini dikumpulkan versi softcopy dan hardcopy. Setiap makalah juga harus dilampiri bukti hasil cek plagiarisme. Hal ini masih biasa saja. Sedangkan ujian bahasa secara daring tampaknya luar biasa. Kami harus menyalakan laptop dan ponsel secara bersamaan. Kamera ponsel dihadapkan ke arah kami dan laptop agar tampak keduanya. Kami menyelesaikan soal-soal ujian dengan pengawasan melalui Zoom Meeting. Ketika posisi kamera agak bergeser, petugas pengawas ujian langsung menegur.

 

Selain itu, ketika memasuki ujian-ujian proposal, komprehensif, work in progress, hingga promosi semua dilaksanakan melalui Zoom Meeting. Bagi kami, angkatan 2019, masalah-masalah teknis sudah tidak terlalu masalah, karena kami sudah beradaptasi cukup panjang. Kadang kami merasa lucu saja ketika menyaksikan senior-senior kami sedang melaksanakan ujian-ujian tersebut, karena mereka tidak atau belum mengalami peristiwa kuliah secara daring. Berbagai masalah teknis, seperti mikrofon, kamera, dan berbagi file ke layar di Zoom Meeting tampak membuat mereka agak kesulitan.

 

Kuliah daring yang cukup panjang ternyata membuat sebagian kami terlena. Hubungan kami dengan kampus mengalami keterputusan yang serius. Sebagian kami melupakan bahwa kuliah harus diselesaikan dengan melakukan penelitian, menulis disertasi, hingga promosi. Rombongan doktoral Angkatan 2019 yang lalai, baik karena kesibukan maupun kesulitan, rupanya cukup banyak. Walau jarak fisik di antara kami dengan kampus sangat dekat, namun jarak mental untuk menyelesaikan terasa cukup jauh. Beruntung masih ada Grup Whatsapp yang masih bisa menghubungkan perasaan kami sebagai mahasiswa. Beruntung pula pimpinan SPs dan Prodi Doktoral terus menghubungi kami, sehingga jarak psikis ini makin terkikis. Akhirnya sebagian besar Angkatan 2019 berhasil lulus, walau di ujung batas waktu. Inilah lulus yang tepat pada waktunya.